Inisiatif Pesisir Tangguh
39 dilihat

Harry Soeherman: Melihat Madasari sebagai Satu Lanskap

Melihat Potensi Kawasan dari Lanskap dan Kehidupan Masyarakat

Pantai Madasari memiliki bentang pesisir yang tidak hanya menawarkan keindahan pantai, tetapi juga ruang hidup masyarakat, lingkungan, budaya, dan berbagai potensi yang saling terhubung.

Pantai ini berada di Desa Masawah, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.

Dalam proses mengenali kawasan tersebut, LINTASAN berdiskusi bersama Ir. Harry Soeherman, M.Ars., IAI., GP., yang memiliki latar belakang dan pengalaman dalam bidang arsitektur, bangunan hijau, lingkungan binaan, ekspedisi, edukasi kebencanaan, serta pengembangan kawasan. 

Menurut Harry, pengembangan sebuah kawasan perlu diawali dengan memahami karakter tempatnya. Lanskap, pola ruang, lingkungan, aktivitas masyarakat, hingga potensi ekonomi perlu dilihat sebagai bagian yang saling berkaitan.

“Madasari jangan dilihat hanya sebagai tujuh pantai. Yang perlu kita lihat adalah hubungan antara pantai, lingkungan, ruang hidup, dan masyarakat yang ada di dalamnya.”

Membaca Kawasan, Bukan Sekadar Pantai

Madasari memiliki tujuh pantai dengan karakter yang berbeda. Masing-masing memiliki kondisi lingkungan, akses, aktivitas, dan potensi yang tidak selalu sama.

Menurut Harry, perbedaan tersebut justru dapat menjadi kekuatan apabila dibaca sebagai satu kesatuan kawasan.

Pendekatan ini tidak berarti menyeragamkan tujuh pantai. Sebaliknya, setiap pantai dapat dikembangkan berdasarkan karakter dan potensinya masing-masing, sementara hubungan antarwilayah menjadi bagian dari pengalaman kawasan secara keseluruhan.

Karena itu, gagasan “Madasari, 7 Pantai 1 Cerita” dapat menjadi salah satu cara untuk mulai melihat Madasari sebagai sebuah lanskap yang saling terhubung.

Memahami Sebelum Mengembangkan

Pengembangan kawasan juga perlu memperhatikan kehidupan masyarakat yang sudah berlangsung di dalamnya.

Permukiman, aktivitas nelayan, usaha masyarakat, ruang publik, akses menuju pantai, lingkungan, serta aktivitas wisata merupakan bagian dari sistem kawasan yang perlu dipahami sebelum menentukan bentuk pengembangannya.

Bagi LINTASAN, perspektif tersebut menjadi penting dalam proses pendampingan masyarakat dan pemuda Desa Masawah. Diskusi tidak berhenti pada pertanyaan “apa yang bisa dibangun?”, tetapi juga “apa yang sudah dimiliki, apa yang perlu diperkuat, dan bagaimana masyarakat ingin kawasan ini berkembang?”

Madasari masih berada dalam proses mengenali dan memetakan potensinya. Karena itu, gagasan yang muncul saat ini bukanlah sebuah keputusan akhir, melainkan bagian dari pembelajaran bersama.

Mengenali tempat. Memahami masyarakat. Membaca potensi. Kemudian menentukan langkah bersama.

 


Tentang Harry Soeherman

Ir. Harry Soeherman, M.Ars., IAI., GP.
Bendahara Yayasan LINTASAN

Harry Soeherman memiliki latar belakang Magister Arsitektur dengan keahlian di bidang arsitektur, green building, lingkungan binaan, ekspedisi, dan edukasi kebencanaan. Ia merupakan Arsitek Utama Ikatan Arsitek Indonesia, Greenship Professional, serta memiliki kompetensi sebagai Ahli Utama Bangunan Gedung Hijau, Ahli Utama Penilai Bangunan Gedung Hijau, dan Ahli Utama Manajemen Konstruksi. 

Pengalamannya mencakup pengembangan kawasan, eksplorasi dan dokumentasi lingkungan binaan, serta keterlibatan dalam Ekspedisi Arsitektur Tradisional Indonesia Arsitektur Hijau Unpar. Ekspedisi tersebut antara lain dilakukan di Ujung Kulon, Kampung Dukuh Garut Selatan, dan Padang, Sumatera Barat, dengan perhatian pada arsitektur, budaya, serta kehidupan masyarakat. 

Harry juga aktif dalam berbagai organisasi profesi, termasuk Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Ikatan Ahli Bangunan Hijau Indonesia (IABHI), Perkumpulan Ahli Pengkaji Teknis Indonesia (PAPTI), serta sebagai asesor kompetensi pada LSP AsTI.

Dalam pengalaman kepemimpinannya, ia pernah menjadi Ketua Organisasi Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Pena Arsitektur Hijau, Ketua Pelaksana Tugas Ikatan Alumni Arsitektur Unpar, serta Ketua Ekspedisi Ujung Kulon Arsitektur Hijau. 

Di LINTASAN, Harry berperan dalam membangun arah organisasi, mengembangkan jejaring, serta memberikan perspektif dalam pengembangan program dan pendekatan LINTASAN di lapangan. Ia juga membawa perhatian pada bagaimana masyarakat dapat mengenali potensi yang dimiliki, memperkuat kapasitas, dan berkembang berdasarkan kebutuhan serta kekuatan lokal. 

“Perubahan tidak dimulai dari apa yang kita bawa, tetapi dari kemauan untuk memahami apa yang ada di sana.”

Galeri & Dokumentasi

Bagikan Artikel Ini